JAYAPURA, Redaksipotret.co – Perum Bulog Kantor Wilayah Papua memberikan klarifikasi terkait video viral di media sosial mengenai aksi tidak etis pekerja yang terlihat menginjak beras saat proses bongkar muat.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari menyayangkan kejadian tersebut dan memastikan aksi itu tidak terjadi di dalam gudang Bulog.
“Peristiwa tersebut berlangsung di atas kapal kargo sisa beras bongkaran yang tertinggal di dalam palka kapal atau sweeping di Pelabuhan Jayapura,” kata Mustari, Senin, 21 September 2026.
Mustari bilang, beras yang dibongkar merupakan mobilisasi nasional atau Mobnas asal DKI Jakarta dengan total kuantum mencapai 2.900 ton.
Pihaknya menegaskan, aktivitas pembongkaran merupakan ranah dan tanggung jawab penuh Perusahaan Bongkar Muat (PBM) Pelindo.
Selain itu, beras sisa yang diinjak tersebut dipastikan tidak langsung didistribusikan, melainkan harus melewati tahap sortir terlebih dahulu.
“Beras yang tidak memenuhi standar mutu atau tidak layak dipastikan ditolak. Melalui pengetatan quality control, kami menjamin seluruh beras yang masuk ke gudang penyimpanan sudah sesuai standar dan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan penanggung jawab bongkar muat agar seluruh proses penanganan beras di pelabuhan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dan menjaga etika kerja.
Manajemen Pelindo menyampaikan permohonan maaf dan menyayangkan aksi tidak terpuji sejumlah pekerja yang terekam menginjak beras saat pembersihan kapal di Pelabuhan Jayapura.

General Manager PT Pelindo Regional 4 Jayapura, Ramdan Affan Kiai Demak memastikan beras yang ada dalam video tersebut merupakan tumpahan dari karung yang bocor dan tidak akan didistribusikan ke masyarakat.
Ramdan menjelaskan, pengiriman beras dari Jawa ke Papua mencakup kuantum 1.500 ton untuk Sorong dan 2.900 ton untuk Jayapura.
Pembersihan sisa tumpahan, kata Ramdan, dilakukan di Pelabuhan Jayapura sebagai titik pemberhentian terakhir, yang menghasilkan akumulasi sebanyak 465 karung beras tumpahan dengan rata-rata berat 30 kilogram per karung.
Ramdan pun menyampaikan, aksi yang melibatkan 15 orang pekerja tersebut terjadi secara spontan setelah mereka menyelesaikan pekerjaan pembongkaran yang berlangsung hampir dua minggu akibat kendala cuaca.
“Kejadian ini menjadi bahan introspeksi dan evaluasi ketat agar seluruh pekerja senantiasa menjaga etika serta kehati-hatian dalam bertugas,” katanya.
Sementara itu, pemilik akun media sosial berinisial AA yang mengunggah video tersebut turut menyampaikan permohonan maaf.
AA mengaku tidak bermaksud membuat kegaduhan publik dan menyebut unggahan tersebut dibuat secara spontan sebagai bentuk ekspresi kegembiraan karena telah menyelesaikan tugas pembongkaran beras. (Syahriah)