Papua bukan hanya tentang bentang alamnya yang eksotis, namun juga tentang denyut kehidupan masyarakatnya yang terus bergerak maju.
Dibalik geliat ekonomi tersebut, sebuah misi besar sedang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan tidak ada satupun warga yang tertinggal dalam menikmati kemudahan layanan keuangan formal.
Melalui sinergi erat dalam forum koordinasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau TPAKD, berbagai pemangku kepentingan bersama memperluas akses keuangan hingga ke sudut wilayah.
Fokus utama gerakan ini menyasar kelompok mahasiswa, pelajar, santri, penyandang disabilitas, hingga para pelaku usaha di Papua.
Komitmen memperkuat literasi keuangan tercermin dari konsistensi penyelenggaraan kegiatan edukasi di lapangan. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 65 kegiatan telah sukses digelar dengan merangkul total 5.530 peserta.
Langkah ini terus berlanjut dengan agresif. Memasuki periode Januari hingga September 2026, sebanyak 55 kegiatan telah dilaksanakan, menjangkau 3.450 orang.
Edukasi yang disampaikan tak hanya teori perbankan, melainkan menyentuh isu krusial yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Menghidupkan Ekosistem Keuangan Inklusif
Salah satu program yang membanggakan adalah pengembangan ekosistem keuangan inklusif di Kampung Nelayan Hamadi, yang terletak di Kota Jayapura.
Program ini dirancang melalui tahapan terstruktur, dimulai dari tahapan prainklusi untuk mengindentifikasi potensi kampung secara komprehensif.
Sebagai langkah awal, survei mendalam dilakukan terhadap 100 warga setempat. Hasilnya, terpotret sebuah tantangan sekaligus peluang besar, yakni 76 persen masyarakat belum memiliki produk keuangan, sementara 24 persen sisanya sudah memanfaatkan layanan keuangan.
Di Kampung Nelayan, OJK juga melibatkan BPJS Ketenagakerjaan dan Pegadaian. Sebanyak 100 nelayan terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk memberikan jaminan rasa aman saat melaut. Kemudian, pembukaan 50 rekening tabungan emas Pegadaian.
OJK juga mendorong perbankan untuk mengoptimalkan program Laku Pandai atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklusif.
“Harapannya, masyarakat nelayan tidak perlu repot pergi jauh ke bank karena agen perbankan kini hadir langsung di kampung mereka,” kata Kepala Bagian Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan LMSt OJK Provinsi Papua, Viktorinus Donny Vika Permana dalam kegiatan Bincang Media di Jayapura, Rabu, 30 September 2026.
Hingga Juni 2026, penetrasi layanan Laku Pandai menunjukan pertumbuhan signifikan. Tercatat 14.460 agen perorangan dan 552 agen badan hukum.
Tidak hanya nelayan, para pelaku usaha mikro dan kecil atau UMK serta generasi muda juga mendapat perhatian khusus melalui berbagai program unggulan.
1.K/PMR (PAPEDA)
Lewat program PAPEDA atau Percepatan Akses Keuangan Daerah, hadir sebagai solusi pembiayaan dari lembaga jasa keuangan formal bagi pelaku UMK dengan proses cepat, mudah, dan berbiaya rendah.
“Tujuannya, memutus ketergantungan masyarakat pada entitas pinjaman informal atau ilegal seperti rentenir,” ujar Donny.
Hingga posisi Agustus 2026, tercatat 319 debitur dengan rincian 25 masih aktif dan 294 sudah lunas. Dengan total Baki Debet penyaluran mencapai Rp74.216.255.
2. Program KEJAR
Sebagai bentuk implementasi Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2019 tentang Hari Indonesia Menabung, program aksi pelajar menabung ini sukses menanamkan budaya finansial sejak dini.
Hingga posisi Juni 2026, jumlah rekening KEJAR di Papua telah mencapai 711.265, dengan total nominal tabungan menembus Rp605,75 miliar.
Peran Strategis Program PED OJK
OJK menghadirkan inisiatif nyata melalui program Pengembangan Ekonomi Daerah atau PED. Program ini dirancang khusus untuk mengoptimalkan daya dukung sektor jasa keuangan atau SJK dalam mendongkrak perekonomian berbasis keunggulan lokal.
Melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor yang sehat, program ini berfokus membangun ekosistem ekonomi daerah yang kokoh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Kehadiran PED tidak berdiri sendiri, melainkan dirumuskan sebagai pilar penting untuk mendukung visi besar pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita.
Di Papua, implementasi PED menjadi instrumen taktis untuk menerjemahkan misi nasional ke dalam aksi di tingkat tapak.
a. Mendukung Asta Cita 2, yakni mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, pengembangan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, hingga potensi ekonomi biru yang melimpah di wilayah pesisir.
b. Mendukung Asta Cita 3, yakni menggerakkan kewirausahaan lokal, menumbuhkan industri kreatif, serta melajutkan penguatan infrastruktur digital agar pelaku usaha di daerah tidak tertinggal dalam ekosistem digital.
c. Mendukung Asta Cita 5, yakni meningkatkan nilai tambah dalam negeri, memastikan komoditas unggulan Papua tidak hanya dikirim keluar dalam bentuk mentah, melainkan diolah terlebih dahulu untuk memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi bagi masyarakat lokal.
d. Mendukung Asta Cita 6, yakni mewujudkan pemerataan ekonomi dan mempercepat pemberantasan kemiskinan melalui perluasan akses inklusi keuangan digital yang inklusif.
Jurnalis : Syahriah