JAYAPURA, Redaksipotret.co – Kinerja Industri Keuangan Non Bank atau IKNB di bawah wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Papua (KOJP) secara keseluruhan mengalami peningkatan.
Piutang Perusahaan Pembiayaan hingga posisi Mei 2026 sebesar Rp4,78 triliun, mengalami peningkatan dari Rp2,2 triliun pada Mei 2025.
Di Papua Pegunungan pembiayaan sebesar Rp38 miliar, Papua Rp2,2 triliun, Papua Selatan Rp1,1 triliun dan Papua Tengah Rp1,1 triliun.
“Peningkatan signifikan terjadi di Papua yang merupakan provinsi induk, yakni dari Rp1,2 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp2,2 triliun,” kata Yosua Rinaldy selaku Kepala Bagian Pengawasan LJK OJK Papua dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Jayapura, Rabu, 30 September 2026.
Pertumbuhan positif juga terjadi pada penyaluran pinjaman Fintech P2P Lending (Pinjaman Daring) di 4 provinsi di wilayah Papua.
“Total penyaluran fintech per April 2026 sebesar Rp114,4 miliar, dengan rincian Papua Rp87,4 miliar, Papua Tengah Rp16 miliar, Papua Pegunungan Rp3,3 miliar dan Papua Selatan Rp7,7 miliar,” jelasnya.
Yosua bilang, tren pertumbuhan positif IKNB terus berlanjut yang didorong oleh performa piutang pembiayaan mencatatkan kenaikan yang signifikan seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya penyaluran kredit ke masyarakat.
“Pada saat yang sama, industri fintech, khususnya peer-to-peer lending, juga menunjukkan peningkatan volume pendanaan secara konsisten. Pertumbuhan di kedua lini ini mempertegas bahwa kinerja dan kontribusi sektor IKNB secara keseluruhan terus mengalami penguatan,” kata Yosua.
Yosua juga membeberkan kinerja dana pensiun yang mampu tumbuh positif yang tercermin dari total investasi per Juli 2026 sebesar Rp1,17 triliun dari sebelumnya Rp1,13 triliun pada Juli 2025.
Sektor perusahaan penjaminan juga mencatatkan kinerja yang positif, ditandai dengan kenaikan nilai penjaminan yang signifikan dari Rp188 miliar menjadi Rp287 miliar. Lonjakan ini berdampak langsung pada peningkatan penerimaan imbal jasa penjaminan (IJP) atau premi yang dikelola oleh industri tersebut.
“Perlu dicatat bahwa mekanisme operasional perusahaan penjaminan memiliki perbedaan mendasar dengan asuransi umum,” jelas Yosua.
Di sektor pasar modal, pertumbuhan partisipasi masyarakat menunjukkan tren yang sangat menggembirakan. Jumlah investor tercatat melesat signifikan, dari 78.000 menjadi 118.000 Single Investor Identification (SID).
“Peningkatan basis investor ini menjadi catatan manis bagi tingkat inklusi keuangan di Papua, mengingat pasar modal merupakan salah satu sektor prioritas yang terus didorong penetrasinya agar masyarakat dapat naik level secara finansial melalui literasi dan inklusi yang lebih matang,” ucapnya.
Sementara itu, dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi saham pada Juni 2026 terjadi penurunan jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025. Namun, kata Yosua, jika dibandingkan secara tahunan terhadap posisi Juni 2025, angka tersebut tetap mengalami peningkatan.
“Ini mencerminkan pola musiman dimana antusiasme transaksi masyarakat cenderung lebih masif pada akhir tahun, didorong oleh penghasilan tambahan yang kemudian dialokasikan untuk berinvestasi,” pungkasnya. (Syahriah)