JAYAPURA, Redaksipotret.co – Ratusan nelayan mendatangi kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua pada Senin, 16 Maret 2026 untuk menuntut penjelasan terkait dugaan perusakan rumah ikan atau rompon milik masyarakat di perairan Jayapura.
Aksi tersebut dipicu kemarahan nelayan yang mengaku kehilangan sumber penghidupan setelah rompon yang mereka pasang di laut dihancurkan oleh kapal ikan.
Rompon yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya ikan sekaligus titik utama nelayan menangkap ikan dilaporkan dirusak hingga tidak bisa lagi digunakan.
Bagi nelayan tradisional, rompon bukan sekadar alat bantu menangkap ikan. Rompon merupakan “dapur hidup” yang menopang ekonomi keluarga mereka.
Tanpa rompon, nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya bahan bakar lebih besar, sementara hasil tangkapan belum tentu didapat.
Dalam orasinya, salah satu perwakilan nelayan meminta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua keluar menemui massa dan memberikan penjelasan terbuka terkait siapa pihak yang bertanggung jawab atas perusakan rompon tersebut.
Namun hingga aksi berlangsung, Kepala Dinas tidak menemui para nelayan. Sikap tersebut memicu kemarahan massa.
Sejumlah nelayan yang sudah lama menahan kekecewaan akhirnya meluapkannya dengan merusak kursi di sekitar halaman kantor dinas serta membakar ban di depan kantor sebagai bentuk protes keras.
“Rompon itu bukan benda biasa. Itu tempat kami cari makan. Kalau dihancurkan, sama saja menghancurkan kehidupan keluarga kami,” teriak salah satu nelayan dalam aksi tersebut.
Para nelayan mengaku kerugian yang mereka alami tidak kecil. Satu unit rompon bisa menelan biaya jutaan rupiah untuk pembuatan dan pemasangan di laut.
Belum lagi waktu berbulan-bulan yang dibutuhkan agar ikan mulai berkumpul di sekitar rompon tersebut.
Kini, setelah rompon dihancurkan, para nelayan bukan hanya kehilangan alat tangkap, tetapi juga kehilangan lokasi penangkapan ikan yang selama ini menjadi andalan mereka. Dampaknya, pendapatan nelayan turun drastis dan banyak keluarga nelayan terancam kehilangan sumber penghasilan.
Nelayan bahkan mencurigai ada keterlibatan pihak tertentu dalam perusakan tersebut. Mereka menduga kapal ikan yang menghancurkan rompon milik masyarakat tidak bekerja sendiri dan kemungkinan mendapat perintah dari pihak tertentu.
“Kami curiga ada yang sengaja suruh kapal ikan hancurkan rompon kami. Ini tidak mungkin terjadi begitu saja,” kata salah satu nelayan.
Para nelayan pun mendesak pemerintah segera mengusut tuntas siapa pemilik kapal ikan yang melakukan perusakan tersebut dan siapa pihak yang memberi perintah.
Sebelumnya, masyarakat nelayan juga telah melaporkan kejadian ini kepada sejumlah pihak, termasuk Gubernur Papua, Kodam XVII/Cenderawasih, dan Kepolisian Daerah Papua, agar segera turun tangan menghentikan praktik yang mereka sebut sebagai penghancuran sumber kehidupan nelayan.
Menurut para nelayan, jika persoalan ini tidak segera ditangani, bukan hanya rompon yang hilang, tetapi juga masa depan ekonomi ratusan keluarga nelayan di pesisir Jayapura yang selama ini bergantung pada laut sebagai satu-satunya sumber penghidupan. (Sumber : Pasificpos.com)




















































