SORONG, Redaksipotret.co – Kinerja industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) hingga September 2025 menunjukkan perkembangan positif, kendati masih menghadapi tantangan di sisi penghimpunan dana pihak ketiga atau DPK.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset pada tujuh BPR di wilayah Papua mencapai Rp2,18 triliun, tumbuh 2,71 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ini diikuti oleh peningkatan penyaluran kredit yang mencapai Rp1,9 triliun atau naik 6,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar Rp1,81 triliun.
“Namun, berbeda dengan kredit, DPK justru stagnan atau tidak mengalami perubahan, berada di kisaran Rp800 miliar,” jelas Yosua Rinaldy selaku Kepala Bagian Pengawasan Industri Jasa Keuangan OJK Papua dalam media gathering di Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (3/12/2025).
Yosua mengungkapkan, kesenjangan antara kredit dan DPK masih cukup besar. Hal ini terjadi lantaran sebagian BPR mengandalkan pendanaan dari bank lain untuk mendukung likuiditas.
Dia menyebut, kondisi ini membuat struktur pendanaan BPR berbeda dibandingkan bank umum yang biasanya memiliki DPK jauh lebih besar sehingga lebih kuat dalam intermediasi.
“Dari sisi suku bunga, BPR sebenarnya memiliki imbal hasil DPK lebih tinggi dibanding bank umum. Namun, daya saing BPR masih terbatas pada sisi pelayanan,” ucapnya menambahkan.
Yosua bilang, banyak BPR belum memiliki layanan digital komprehensif, seperti mobile banking atau internet banking yang setara dengan bank umum.
“Sehingga masyarakat sudah terbiasa menempatkan dana di bank umum kendati bunganya lebih rendah, karena akses lebih mudah, layanan digital lengkap, jaringan cabang dan ATM lebih luas,” ujarnya. (Syahriah)





















































