JAYAPURA, Redaksipotret.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Papua kumulatif Januari hingga November 2024 mengalami suprlus sebesar 66.605,69 Dolar Amerika.
Kepala Fungsi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik Pelayanan Statistik Terpadu BPS Provinsi Papua, Paul mengatakan, meningkatnya aktivitas ekspor baik secara langsung maupun tidak langsung, mencatatkan neraca perdagangan Papua mengalami surplus. Surplus terjadi karena nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor.
“Nilai ekspor Januari hingga November 2024 sebesar 76.270,80 Dolar Amerika, sementara, nilai impor periode yang sama sebesar 9.665,11 Dolar Amerika,” kata Paul saat merilis ekspor impor Papua di Hotel Fox Jayapura, Senin (16/12/2024).
Paul pun menyebut, diperkirakan ekonomi Papua tumbuh positif hingga akhir 2024 sebagai akibat dari kegiatan produksi maupun ekspor.
“Diharapkan hasil dari nilai ekspor akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Papua,” ucapnya.
Namun, jika dibandingkan kumulatif Januari hingga November 2023, neraca perdagangan Papua Januari hingga November 2024 mengalami defisit senilai 80.788,48 Dolar Amerika.
Enam negara utama menjadi tujuan ekspor Papua, yaitu, Australia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru dan Papua Nugini. Adapun komoditi yang diekspor yaitu migas dan nonmigas antara lain, bijih besi dan konsentratnya (HS26), kayu dan barang dari kayu (HS44), ikan, krustasea dan moluska (HS03).
Sementara, impor Papua berasal dari negara Australia, Jepang, Singapura dan Papua Nugini. Komoditi yang diimpor berupa migas dan nonmigas antara lain, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya kopi, teh, dan rempah-rempah.
Kemudian,olahan dari daging, ikan, krustasea, dan moluska, olahan dari tepung biji dan buah mengandung minyak, buah-buahan kendaraan udara dan bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, barang dari besi dan baja dan berbagai produk kimia.
Editor : Syahriah Amir





















































