JAYAPURA, Redaksipotret.co – Perekonomian Provinsi Papua Pegunungan pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan dinamika yang beragam, dengan pertumbuhan yang tetap terjaga secara tahunan meskipun mengalami tekanan secara kuartalan.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai ekonomi Papua Pegunungan atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp7.228,81 miliar, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.575,87 miliar.
Secara tahunan atau year on year, ekonomi Papua Pegunungan tumbuh sebesar 3,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh sebesar 6,46 persen.
Pelaksana tugas Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, Emi Puspitarini mengatakan, hal ini mencerminkan peran penting sektor primer sebagai penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
Dari sisi pengeluaran, sebutnya, Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan sebesar 3,44 persen, yang menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Kendati demikian, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Papua Pegunungan mengalami kontraksi sebesar -3,03 persen.
Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha konstruksi yang turun sebesar -10,68 persen, mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas pembangunan infrastruktur pada awal tahun.
Emi menambahkan, dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi paling dalam sebesar -21,15 persen, yang kemungkinan dipengaruhi oleh pola realisasi anggaran pemerintah di awal tahun anggaran.
Dia pun mengungkapkan, lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sebesar 20,57 persen.
Hal ini menunjukkan dominannya peran sektor pemerintahan dalam struktur ekonomi Papua Pegunungan.
“Sementara, dari sisi pengeluaran, struktur ekonomi sangat didominasi oleh konsumsi rumah tangga (PK-RT) dengan kontribusi mencapai 88,40 persen, menegaskan bahwa ketergantungan terhadap belanja masyarakat sangat tinggi dalam menopang perekonomian daerah,” jelasnya, Selasa, 5 Mei 22026. (Rilis)























































