JAYAPURA, Redaksipotret.co – Perekonomian Provinsi Papua pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan kinerja yang relatif stabil di tengah dinamika ekonomi regional.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai ekonomi Papua atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp23.579,94 miliar, sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp13.729,13 miliar.
Secara tahunan, ekonomi Papua tumbuh sebesar 4,96 persen dibandingkan triwulan I-2025. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi (Kategori J) yang tumbuh sebesar 7,44 persen.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Emi Puspitarini mengatakan, hal ini mencerminkan semakin meningkatnya peran sektor digital dan komunikasi dalam mendorong aktivitas ekonomi di Papua.
Sementara, dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan sebesar 8,26 persen, menunjukkan kuatnya peran belanja pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan.
“Namun, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter), ekonomi Papua mengalami kontraksi sebesar -0,80 persen,” jelasnya, Selasa, 5 Mei 2026.
Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan (Kategori H) yang turun sebesar -4,11 persen.
Emi bilang, kondisi ini mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas distribusi dan mobilitas barang maupun jasa pada awal tahun.
Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah juga mengalami kontraksi paling dalam, yakni sebesar -16,20 persen, yang kemungkinan dipengaruhi oleh pola realisasi anggaran di awal tahun.
Dari sisi struktur ekonomi, sebutnya, Lapangan Usaha Konstruksi (Kategori F) masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sebesar 19,37 persen.
“Hal ini menegaskan pentingnya sektor pembangunan infrastruktur dalam menopang perekonomian Papua,” ujarnya.
Dia menambahkan, struktur ekonomi tetap didominasi oleh konsumsi rumah tangga (PK-RT) dengan kontribusi sebesar 54,85 persen, yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menjadi tulang punggung utama ekonomi daerah. (Rilis)






















































