HALMAHERA UTARA, Redaksipotret.co – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) terus memperkuat komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Salah satunya diwujudkan melalui kolaborasi bersama Program Studi Kehutanan, Fakultas Ilmu Alam dan Teknologi Rekayasa (FIATER), Universitas Halmahera (UNIERA), dalam kegiatan pembibitan dan rehabilitasi mangrove di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara.
Sebanyak 1.000 bibit mangrove disiapkan melalui kegiatan pembibitan yang melibatkan dosen dan mahasiswa Prodi Kehutanan UNIERA, kelompok masyarakat konservasi Mamoa, serta siswa sekolah dasar.
Bibit tersebut berasal dari jenis Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza yang dipersiapkan untuk mendukung rehabilitasi kawasan pesisir Pantai Wauwo.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu lalu menjadi bagian dari upaya PLN UIP MPA untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada penanaman, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem dan keterlibatan masyarakat.
General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian penting dari komitmen PLN dalam menjalankan pembangunan yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.
“Melalui program TJSL ini, PLN ingin hadir tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur kelistrikan, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan. Rehabilitasi mangrove di Pantai Wauwo merupakan bentuk kolaborasi yang kami harapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, ekosistem pesisir, dan habitat Mamoa,” ujar Raja, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara PLN, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan keahlian, masyarakat memiliki pengalaman serta kedekatan dengan wilayahnya, sementara PLN dapat mendukung penguatan program melalui TJSL. Ketika seluruh potensi tersebut disatukan, dampaknya akan menjadi lebih besar dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dia berharap kolaborasi bersama UNIERA dapat terus berkembang hingga tahap penanaman, pemeliharaan, monitoring dan evaluasi keberhasilan rehabilitasi.
Ke depan, sinergi ini diharapkan dapat melibatkan lebih banyak masyarakat dan pemangku kepentingan dalam menjaga kawasan pesisir Halmahera Utara.
“Kami ingin program ini tidak berhenti pada pembibitan. Ada proses berikutnya yang harus kita kawal bersama, mulai dari penanaman sampai pemeliharaan dan monitoring. Inilah semangat TJSL PLN, yaitu menghadirkan manfaat yang berkelanjutan dan mendorong masyarakat menjadi bagian dari perubahan,” pungkasnya.
Dosen Prodi Kehutanan UNIERA sekaligus Ketua kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Dr. Ebedly Lewerissa, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa pembibitan merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam memastikan keberhasilan rehabilitasi mangrove.
Dia menjelaskan, keberhasilan kegiatan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang dihasilkan. Bibit tersebut harus mampu tumbuh, dipelihara dan memberikan manfaat ekologis bagi kawasan pesisir.
“Yang paling penting bukan hanya berapa banyak bibit mangrove yang kita hasilkan, tetapi bagaimana bibit tersebut nantinya dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, rehabilitasi Pantai Wauwo harus kita lihat sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan penanaman, pemeliharaan, monitoring dan keterlibatan masyarakat,” jelas Ebed.
Pantai Wauwo memiliki nilai ekologis penting sebagai bagian dari kawasan pesisir yang menopang kehidupan berbagai biota. Keberadaan mangrove berperan dalam mengurangi tekanan abrasi, menjaga kualitas lingkungan pesisir, menyediakan ruang hidup bagi berbagai organisme, sekaligus menyimpan karbon.
Rehabilitasi mangrove juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem yang mendukung keberadaan habitat Mamoa. Dengan demikian, upaya konservasi tidak hanya diarahkan pada perlindungan satwa, tetapi juga pada pemulihan ekosistem yang menjadi ruang hidupnya.
Dalam pelaksanaannya, proses pembibitan dilakukan secara bertahap mulai dari pemilihan propagul, penyemaian, penanaman pada media pembibitan hingga pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan bibit.
Keterlibatan mahasiswa dan siswa juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Selain mendapatkan pengalaman langsung mengenai teknik pembibitan dan rehabilitasi mangrove, mereka juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga ekosistem pesisir sejak dini. (Rilis)
























































