JAYAPURA, Redaksipotret.co – Hingga Mei 2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp95,15 miliar atau 40,57 persen dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN 2026 sebesar Rp234,53 miliar.
Eston Erlangga selaku Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Jayapura menjelaskan, capaian tersebut terutama ditopang oleh penerimaan bea masuk yang sebagian besar berasal dari kegiatan impor PT Freeport Indonesia dan PT AKR Corporindo,Tbk di Timika.
“Selain itu, penerimaan juga didukung oleh bea masuk yang berasal dari skema impor sementara atas pemasukan kapal riset seismik melalui Jayapura,” jelas Eston, saat merilis kinerja APBN Papua, Jumat, 26 Juni 2026.
Dari sisi perdagangan internasional, hingga Mei 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$6,93 juta, sementara, nilai impor mencapai US$216,36 juta, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$209,43 juta.
Eston mengatakan, peningkatan nilai impor terutama didorong oleh meningkatnya kebutuhan barang untuk mendukung perbaikan tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia setelah terjadinya longsor material basah.
Namun, penurunan yang terjadi pada nilai ekspor, ujar Eston, disebabkan oleh berhentinya ekspor konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia.
“Saat ini, hasil produksi konsentrat seluruhnya dikirim ke fasilitas smelter di Gresik, Jawa Timur, sehingga tidak lagi tercatat sebagai ekspor dari wilayah Papua,” ungkapnya.
Dia menegaskan, dengan kondisi tersebut, struktur ekspor di wilayah regional Papua saat ini hanya ditopang oleh ekspor plywood dari KB PT SWPI di Biak.
“Serta ekspor kayu dan barang kebutuhan rumah tangga melalui wilayah kerja KPPBC Jayapura,” ucapnya.
Dia pun mengungkapkan, apabila komoditas konsentrat tembaga dikeluarkan dari perhitungan, hingga April 2026 kinerja ekspor regional Papua masih mengalami kontraksi dengan pertumbuhan negatif sebesar 46 persen.
Eston bilang, kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan ekspor tidak hanya dipengaruhi oleh berhentinya ekspor konsentrat, tetapi juga mencerminkan masih terbatasnya diversifikasi komoditas ekspor dari wilayah Papua. (Syahriah)
























































