JAYAPURA, Redaksipotret.co – Penyaluran dan suplai bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom saat ini dipastikan berada dalam kondisi aman.
Penjualan BBM ke masyarakat di tiga wilayah tersebut dilayani oleh 13 SPBU reguler, serta ditambah satu SPBU yang baru beroperasi di Holtekamp.
Kehadiran SPBU Holtekamp ini sangat membantu mengurai antrean dan mendistribusikan titik pengisian BBM agar tidak terpusat di lokasi tertentu.
Ketua DPD VIII Hiswana Migas Papua Maluku, Ledryk Lekenila atau Ongen mengatakan, secara umum, rata-rata konsumsi harian BBM di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU berkisar antara 15 hingga 24 kiloliter (KL).
“Untuk jenis Solar, volume penjualan tertinggi tercatat di SPBU Nagoya yang berada di Jalan Koti, Kota Jayapura,” jelas Ongen, Jumat, 4 September 2026.
Sementara itu, konsumsi Pertalite juga mengalami peningkatan dengan rata-rata harian mencapai 15 hingga 25 KL per SPBU, dengan volume penjualan cukup tinggi terlihat di SPBU kawasan Waena, Kota Jayapura.
Namun, dinamika berbeda terjadi pada BBM non subsidi seperti Pertamax dan Dexlite. Kenaikan harga pada jenis BBM non subsidi memicu penurunan penjualan, di mana Pertamax mengalami penurunan sekitar 8 hingga 9 persen.
Sementara, Dexlite turun sekitar 3 persen. Dampaknya, sebagian pengguna beralih sehingga tingkat konsumsi BBM bersubsidi mengalami kenaikan.
“Harga Pertamax Rp16.300 per liter dan Rp24.200 per liter untuk Dexlite. Sementara, harga BBM subsidi Pertalite tetap Rp 10.000 per liter, dan Solar subsidi sebesar Rp 6.800 per liter,” kata Ongen.
Ongen bilang, kondisi ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat menjelang akhir tahun aktivitas operasional proyek pembangunan dan pengerjaan jalan kerap melonjak, yang diikuti pula oleh tingginya mobilitas distribusi kebutuhan pokok.
Meski konsumsi BBM bersubsidi meningkat, Ongen mengungkapkan, hal ini belum berdampak negatif pada alokasi pasokan. Permintaan tambahan ke Pertamina masih dapat dipenuhi dengan baik.
Tetapi, untuk menjaga kelancaran distribusi BBM, bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak SPBU. Karena saat ini baru memasuki bulan Agustus, dinamika kuota dan pasokan di tingkat nasional untuk sisa tahun berjalan masih harus terus dipantau.
“Jika penyaluran di tingkat nasional mengalami kendala, tentu pasokan di daerah juga berpotensi terdampak,” katanya.
Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dan hemat dalam menggunakan BBM bersubsidi agar ketersediaannya tetap terjaga hingga akhir tahun. (Syahriah)


























































