JAYAPURA,Redaksipotret.co – Batik memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Produk ini terus dibutuhkan pasar domestik maupun internasional, dan mampu berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto atau PDB.
Di Papua, Sanggar Ameldi salah satu pelaku industri kreatif yang memiliki peran penting dalam melestarikan warisan leluhur ini sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Ameldi memproduksi kain batik berupa cap dan tulis dengan motif khas Jayapura. Nama Ameldi sendiri merupakan akronim dari Aimar, Elisabet, Eren, Dina.
Sanggar ini telah dibentuk pada 2009 lalu, dengan anggota sebanyak 15 orang. Namun dalam perjalanannya mengalami pasang surut. Meski sempat bangkit pada 2012 lalu, tetapi kembali terpuruk karena kurangnya dukungan finansial.
Lima tahun kemudian atau tepatnya 2014, di bawah pimpinan Joni Silas Wona dan dibantu lima orang lainnya, sanggar ini mulai aktif kembali.
Joni Silas Wona yang memiliki latar belakang pendidikan membatik sejak 2003, bertekad melestarikan warisan leluhur ini melalui Sanggar Batik Ameldi.

Saat ditemui Redaksipotret.co, Senin, 6 Juli 2026, Joni mengungkapkan upayanya mempertahankan sanggar tersebut di tengah persaingan industri batik yang begitu ketat.
Joni tak ingin masyarakat hanya mengenal nama batik Papua, tetapi lebih dari itu, dirinya ingin merangkul generasi muda untuk turut melestarikan batik dan mendapatkan penghasilan dengan cara terlibat langsung dalam proses produksi.
Memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat bersama pengurus sanggar, salah satu cara Joni Silas Wona melestarikan batik dan mendatangkan keuntungan atau cuan bagi mereka.
Dia meyakini, semakin banyak orang berminat mempelajari pembuatan batik khas Papua, maka secara tidak langsung akan membantu meningkatkan perekonomian daerah.
“Jika semakin banyak orang mengetahui cara membatik, maka akan muncul usaha – usaha baru, membuka lapangan kerja. Hal ini tentu akan mendorong peningkatan perekonomian, baik diri sendiri, maupun bagi daerah,” kata Joni.

Dalam memproduksi batik tulis dan cap, sebulan sanggar Ameldi menggunakan 37 meter kain. Dari jumlah tersebut, menghasilkan 4 potong kain batik tulis dan 7 potong kain batik cap dengan penghasilan kurang lebih Rp6 juta.
“Harga yang kami pasarkan mulai Rp200 ribu per meter kain hingga Rp350 ribu. Harga menyesuaikan motif,” ucapnya.
Joni pun mengaku, minimnya produksi batik tulis lantaran sanggar tersebut hanya memiliki satu pembatik. Kendati demikian, Joni Silas Wona tetap semangat membangkitkan gairah membatik bagi semua kalangan.
Joni bilang, pemasaran batik Ameldi dilakukan secara online lewat media sosial, dan lewat promosi secara offline. Pemasaran dengan cara ini dinilai efektif, hal itu terbukti dengan adanya permintaan dari berbagai kalangan di luar Papua hingga mancanegara.
“Kami bekerjasama dengan salah satu organisasi di Nabire untuk mempromosikan batik khas Papua produksi Ameldi di Australia sebagai cinderamata. Sementara, untuk ekspor dalam jumlah besar, kami belum melakukan,” ungkapnya.
Seperti industri kreatif lainnya, sanggar Ameldi juga memanfaatkan teknologi dalam bertransaksi. Sejak 2023, transaksi yang digunakan non tunai berupa Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS dan transfer bank melalui mobile banking atau pun melalui anjungan tunai mandiri (ATM). (Syahriah)

























































