JAYAPURA, Redaksipotret.co – Distribusi Minyakita di wilayah Papua masih menghadapi kendala keterlambatan pengiriman dari produsen.
Perum Bulog Kanwil Papua mengakui pasokan minyak goreng bersubsidi tersebut belum sepenuhnya terealisasi sesuai jadwal.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, mengatakan bahwa pasokan Minyakita dari PT Smart Tbk yang seharusnya masuk pada Januari 2026 sebanyak 513.000 liter, hingga kini belum seluruhnya diterima.
“Februari semestinya kembali dipasok sekitar 513.000 liter, namun masih terjadi keterlambatan,” ujar Mustari, Rabu, 25 Februari 2026.
Dia mengungkapkan, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar. Hasilnya, menunjukkan ketersediaan Minyakita di sejumlah outlet masih terbatas.
Dia bilang, dari sekitar 20 outlet yang menjadi tanggung jawab Bulog di pasar, sebagian masih kosong akibat keterbatasan stok.
“Jika tersedia, distribusi ke tiap outlet maksimal hanya 20 karton, yang ketahanannya hanya beberapa hari,” jelasnya.
Kendati demikian, Mustari memastikan bahwa Perum Bulog terus menjalin komunikasi dengan produsen di Jawa Timur guna mempercepat distribusi ke wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, terlebih menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Dari sisi harga, penjualan Minyakita di outlet resmi wajib mengacu pada Harga Eceran Tertinggi atau HET sebesar Rp15.700 per liter.
“Meski ditemukan pedagang yang menjual seharga Rp16.000 per liter, hal tersebut diklaim sebagai pembulatan harga akibat keterbatasan uang receh,” ungkapnya.
Sementara itu, stok Minyakita di gudang Perum Bulog Papua saat ini masih kosong dan menunggu kedatangan empat kontainer yang diperkirakan tiba pada 27 Februari 2026.
Namun, jadwal tersebut masih bersifat estimasi dan berpotensi mengalami perubahan.
“Kita harapkan bisa segera masuk agar distribusi ke pasar kembali normal,” ucapnya. (Haikal)




















































