JAYAPURA, Redaksipotret.co – Kapolresta Jayapura Kota, Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen berharap ke depan ada ruang dialog yang lebih terbuka dan konstruktif agar aspirasi mahasiswa bisa tersampaikan dengan baik.
Hal itu disampaikan Kapolresta menyusul aksi unjuk rasa kerap dilakukan di titik keramaian yang dapat mengganggu ketertiban umum.
Menurutnya, audiensi atau bentuk komunikasi lainnya perlu dimaksimalkan sebagai jembatan antara pihak-pihak terkait.
Kapolresta juga mengingatkan bahwa semua unsur memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga agar penyampaian aspirasi tetap berjalan dengan tertib dan dapat diterima oleh semua pihak.
Aksi unjuk rasa oleh kelompok mahasiswa dari Universitas Cenderawasih Jayapura terkait pembakaran mahkota Cenderawasih yang berlangsung di sejumlah titik di Kota Jayapura, Papua berlangsung Senin (27/10/2025).
Kendati dalam pelaksanaannya, antara pihak mahasiswa sempat terjadi pro dan kontra, namun Kapolresta berharap, kedepan ada konsolidasi lebih baik agar dalam penyampaian aspirasi dapat berjalan aman dan lancar sesuai harapan.
Sebelumnya, Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua, khususnya kepada para tokoh adat dan lembaga kultural seperti Majelis Rakyat Papua (MRP), atas munculnya kekecewaan terkait pemusnahan barang bukti berupa ofset dan mahkota burung cenderawasih pada Senin, 20 Oktober 2025.
Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, menjelaskan bahwa pemusnahan tersebut merupakan bagian dari proses penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar dilindungi dan bagian-bagiannya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 32 tahun 2024 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (Rilis)



















































