JAYAPURA, Redaksipotret.co – Salahsatu korban banjir dan luapan air Danau Sentani, Nelvis Manobi meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab Jayapura agar melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk segera melakukan audit terhadap dana banjir bandang dan meluapnya air Danau Sentani tahun 2019 lalu.
Hal tersebut disampaikan Nelvis lantaran proses pembangunan rumah warga yang terdampak bencana alam tersebut hingga saat ini belum rampung.
Bahkan, kata dia, banyak penerima manfaat yang mengeluh akibat rumah mereka yang belum selesai dibangun, dan tidak dikerjakan oleh para kontraktor yang mengambil tender pekerjaan rumah tersebut.
Nelvis mengungkapkan, beberapa waktu lalu dirinya telah menyampaikan terkait kontraktor-kontraktor nakal yang bekerja tidak menyelesaikan pekerjaannya di kampung-kampung.
“Itu terkait pembangunan rumah warga yang terdampak banjir bandang dan luapan air Danau Sentani pada 16 Maret 2019 lalu,” tegasnya.
Sebagai penerima manfaat di Kampung Homfolo, Nelvis mengaku rumahnya dan juga ada lima rumah warga yang terdampak banjir bandang dan luapan air Danau Sentani hingga saat ini belum diselesaikan atau dibangun oleh satu kontraktor sebagai penyedia tidak selesaikan pekerjaannya hingga tuntas.
“Jadi, kami ada enam orang selaku penerima manfaat, rumah kami itu tidak dibangun sama sekali. Tetapi, pada kenyataannya anggaran untuk realisasi 100 persen pembangunan rumah itu sudah dilakukan oleh Pemkab Jayapura dengan kontraktor yang bersangkutan,” imbuhnya.
Berkaitan dengan itu, pihaknya mempertanyakan bahwa ada nota kesepakatan antar pemilik rumah (penerima manfaat) selaku korban banjir bandang dan luapan air Danau Sentani dengan kontraktor (penyedia) yang mengerjakan pembangunan rumah tersebut.
“Apakah di dalam nota kesepakatan itu, ada tanda tangan kami sebagai pemilik rumah. Sehingga pemerintah daerah bisa mencairkan sisa anggaran itu, atau BPBD bisa mencairkan anggaran 100 persen kepada para kontraktor,” tanya Nelvis.
“Kami juga menginginkan agar pemerintah Kabupaten Jayapura juga bisa menjelaskan kepada masyarakat yang terdampak banjir dan luapan air Danau Sentani terkait proses pencairan anggaran pengerjaan pembangunan rumah tersebut. Supaya kami juga bisa tahu bahwa kesepakatan itu benar-benar keluar dari korban bencana kepada kontraktor, sehingga anggaran itu bisa dicairkan,” sambungnya.
Dia menyampaikan, pembangunan rumah bagi warga korban banjir yang belum dibangun oleh kontraktor itu bukan hanya terdapat di Kampung Homfolo saja, tetapi juga di Kampung Hobong dan kampung-kampung yang ada di pesisir Danau Sentani.
Hal ini sangat disayangkan oleh masyarakat penerima manfaat, karena seharusnya anggaran tersebut bisa menyelesaikan persoalan masyarakat yang ada di kampung terutama yang terdampak bencana.
“Justru anggaran itu datang hanya memberikan harapan-harapan palsu kepada masyarakat sebagai penerima manfaat. Karena sampai hari ini mereka hanya menanti dan menanti rumahnya yang sudah rubuh itu, yang hanya diberikan harapan oleh kontraktor itu tinggal begitu saja dan terabaikan hingga saat ini. Kami berbicara soal ini karena masyarakat masih menunggu kapan pemerintah daerah bisa datang melihat rumah kami yang sudah rusak akibat diterjang banjir bandang,” tukas pria yang akrab disapa Neil Ibo ini.
Sementara itu ditempat yang sama, Ketua Pemuda Pancamarga (PPM) Kabupaten Jayapura Nelson Yohosua Ondi menambahkan bahwa pihaknya meminta penegasan kepada Pemkab Jayapura dalam hal ini Pj Bupati Jayapura terkait persolan yang dihadapi oleh warga korban banjir bandang dan luapan air Danau Sentani.
“Karena persoalan ini bukan hal yang baru. Bahwa masalah ini tidak pernah ada tanggapan yang serius dari pemerintah. Bahkan bisa dilihat banyak teman-teman yang pernah melakukan aksi demo damai, tetapi tidak pernah ada tindakan serius dari pemerintah daerah,” ucap Nelson, di Sentani, Kamis (5/10/2023).
“Harapan saya, kepada pak Pj Bupati untuk melihat masalah ini dengan serius dan kalau bisa persoalan ini di buat secara tertulis. Supaya persoalan ini bisa ditangani langsung oleh BPK atau BPKP, karena tender proyek ini nilainya fantastis sebesar Rp275 miliar, yang secara gelondongan diturunkan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi bagi korban terdampak bencana banjir bandang dan luapan air Danau Sentani,” tegasnya.
Sebelumnya, pembangunan rumah bantuan korban banjir bandang dan luapan air Danau Sentani di Segmen II dan III diberikan sebanyak 2.217 unit dengan melibatkan sebanyak 189 kontraktor lokal dan 233 paket pekerjaan.
Penulis : Muhammad Irfan Editor : Syahriah Amir
























































