JAYAPURA, Redaksipotret.co – Festival Kopi (Feskop) Papua yang digagas Bank Indonesia memasuki tahun ke-8 sejak digelar pada Agustus 2018 lalu disambut antusias oleh pegiat kopi.
Josua Tabuni, salah satu pegiat kopi mengaku terbantu dengan adanya festival ini. Menurutnya, festival yang diselenggarakan setiap tahun menjadi pemicu dirinya fokus mengembangkan kopi Papua.
“Ada dorongan semangat untuk saya dan teman pegiat kopi lainnya meningkatkan ekonomi melalui kopi,” ucap Josua saat ditemui di arena Festival Kopi Papua, di Kota Jayapura, Sabtu (20/9/2025).
Feskop ke-8 merupakan kedua kalinya Josua dilibatkan. Dia pun mengungkapkan, tak hanya menggelar festival, Bank Indonesia juga melakukan pembinaan bagi para petani kopi di Papua.
“Banyak perubahan yang saya rasakan setelah mendapatkan pembinaan sebelum terlibat dalam festival ini,” kata Josua yang merupakan petani kopi dari Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Pegiat kopi lainnya dari Mimika, Papua Tengah, Musawir menuturkan, pelaksanaan Feskop setiap tahun mengalami perubahan.
“Semakin berkembang, beragam inovasi dihadirkan di setiap pelaksanaannya. Saya berterima kasih kepada Bank Indonesia yang telah mendorong peningkatan ekonomi masyarakat terutama pegiat kopi melalui festival,” ucap Musawir.
Seperti Josua, feskop tahun ini kedua kalinya Musawir dilibatkan. Diakuinya, ada perubahan yang dirasakan setelah mengikuti festival lantaran sebelumnya telah mendapatkan pembinaan.
“Pengetahuan tentang kopi bertambah karena kami tidak hanya dilibatkan di festival, tapi juga dibina untuk mengenal kopi secara luas, mulai dari jenisnya hingga pengolahannya,” ujarnya.
Pegiat kopi dari Kepulauan Yapen, Papua, Musa yang telah menjadi petani kopi sejak 2017 lalu mengapresiasi Bank Indonesia lantaran telah kembali melibatkan dirinya dalam festival tersebut.
Musa telah empat kali mengikuti Feskop Papua. Dia pun mengakui, manfaat yang dirasakan sebelum dan setelah mengikuti festival.
“Sebelum mengikuti festival, masyarakat belum mengenal kopi Ambaidiru. Setelah mengikuti feskop, masyarakat pun mulai mengetahui bahwa Kepulauan Yapen, khususnya di Yapen Timur, salah satu daerah penghasil kopi,” ungkapnya.
Feskop Papua ke-8 digelar 20-22 September 2025 di Kota Jayapura. Festival ini bertujuan untuk mengembangkan ekonomi petani kopi lokal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat Papua mengenai bagaimana kopi diproduksi, mulai dari petani hingga sampai ke konsumen.
Keunikan rasa kopi Papua semakin membuat penasaran untuk dinikmati. Sebelum Feskop digelar, kopi Papua hanya dipajang di berbagai coffee shop, dan hanya bisa menemukannya di kedai kopi konvensional, yang artinya tidak hanya secangkir kopi yang perlu dibayar, tetapi juga pajak per cangkir.
Kopi menjadi komoditas potensial yang bisa dikembangkan lebih lanjut, mengingat pertanian kopi di Papua sudah sangat luas. Festival ini tidak hanya melibatkan petani kopi lokal, tetapi juga pengusaha kedai kopi dan barista berlisensi.
“Melalui festival ini, diharapkan bisa membangun ekosistem kopi Papua yang lebih berkembang, sekaligus menjadikan kopi Papua sebagai merek yang dikenal di tingkat internasional,” kata Faturachman selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua. (Syahriah)



















































