JAYAPURA, Redaksipotret.co – Neraca perdagangan Indonesia hingga Juni 2024 mengalami surplus dengan situasi baik sebesar 2,39 miliar dolar Amerika dari hasil perdagangan ekspor.
“Namun perlu diupayakan bahwa peluang ekspor masih cukup banyak yang belum digarap, termasuk komoditas kopi, tetapi kami meyakini Bank Indonesia terus memantau potensi tersebut,” kata Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Produktivitas dan Daya Saing, Herbert Siagian sesaat sebelum pembukaan Festival Kopi Papua di Kota Jayapura, Rabu (14/8/2024) malam.
Herbert mengatakan, kopi menjadi salah satu komoditas penting dunia. Sementara, produksi kopi Indonesia tahun ini berkisar 10,9 juta kantung dengan masing – masing kantung sekitar 60 Kilogram dengan komposisi produksi 87,16 persen Robusta dan 12,84 persen jenis Arabica berada di wilayah Papua.
Herbert menyebut, tahun ini Indonesia menjadi produsen kopi terbesar nomor 4 dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Berada di bawah tiga negara pengekspor kopi tersebut, Indonesia, kata Herbert punya peluang sangat besar untuk melakukan ekspor kendati peminum kopi terbanyak umumnya di Eropa dan Jepang.
“Negara di Eropa dan Jepang sama sekali tidak mempunyai kopi, sementara penikmat kopi terbanyak dari negara tersebut. Ini menjadi peluang bagi Indonesia, termasuk Papua yang memiliki kopi jenis Arabica untuk melakukan ekspor. Kita harus jeli melihat peluang ini,” kata Herbert.
Herbert mengatakan bahwa Papua memiliki potensi yang besar mulai dari budaya, sejarah, UMKM dan kawasan. Papua menjadi wilayah strategis karena berbatasan langsung dengan negara PNG. Kemudian terdapat jenis objek wisata alam yang sangat menarik.
“Ini semua bisa dikemas menjadi branding Provinsi Papua untuk mengangkat UMKM berbasis budaya dengan produk khasnya dan memanfaatkan digitalisasi,” kata Herbert.
Editor : Syahriah Amir






















































