JAYAPURA, Redaksipotret.co – Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat penerimaan Kepabeanan dan Cukai atau PKC di Papua hingga periode Agustus 2024 tercatat Rp5.552,33 Miliar (5,55 triliun) atau mencapai 230,22 persen.
Angka ini melebihi dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2024 atau mengalami kenaikan 1.114,45 persen dibandingkan periode Agustus 2023 (yoy).
Hal itu disampaikan Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis Bea Cukai Jayapura, Samuel Jacobus Mayckel Siahainenia dalam konferensi pers APBNKita Provinsi Papua di gedung keuangan negara (GKN) Jayapura, Senin (30/9/2024).
Samuel mengungkapkan, sejumlah faktor pendorong menyebabkan PKC pada Bea Masuk, Denda Pabean dan Bea Keluar tumbuh signifikan.
“Untuk Bea Masuk tumbuh 40,64 persen didorong oleh extra effort dan kurs dolar yang meningkat dibandingkan tahun lalu dan kinerja impor yang masih konsisten tumbuh, serta terdapat impor isidentil berupa beras Bulog pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C atau KPPBC TMP C Jayapura,” jelas Samuel.
Pada Bea Masuk, nilai tertinggi yang diproyeksi Rp20 miliar, terealisasi Rp57 miliar. Nilai ini melebihi target atau telah mencapai 180,95 persen. Dibandingkan tahun 2023 hanya terealisasi Rp18,438 miliar.
Untuk penerimaan dari Denda Pabean yang mengalami peningkatan hingga 2.200,92 persen, kata Samuel, dipengaruhi adanya tagihan denda pabean yang tinggi pada Maret 2024 yang berasal dari dokumen Surat penetapan pabean (SPP), Surat penetapan tarif dan/atau nilai pabean (SPTNP) dan Surat Penetapan Kembali Tarif dan/atau Nilai Pabean (SPKTNP) pada KPPBC TMP C Timika.
“Total realisasi denda pabean dari Januari sampai Agustus 2024 tercatat Rp2,1 miliar diperoleh dari PT Freeport Indonesia,” kata Samuel.
Sementara itu, bea keluar tumbuh sangat fantastis, yakni mencapai 1.721,03 persen. Sampai Agustus 2024, realisasi penerimaan tercatat Rp5 triliun dibandingkan proyeksi sebesar Rp2 triliun.
Samuel bilang, tiga poin penerimaan KPC yang tumbuh signifikan hingga melebihi target terjadi karena analisis deviasi atau metode pemeriksaan proyeksi pada Agustus, dimana pada bulan tersebut terjadi impor barang yang merata di seluruh Provinsi Papua.
Dia juga membeberkan komoditi penghasil devisa dari ekspor yang dilakukan pada Agustus lalu berupa konsentrat tembaga oleh PT Freeport Indonesia di Timika, ekspor kayu semi olahan oleh Sinar Wijaya Plywood Industries di Biak, daging ikan oleh PT Indo Numfor Pacific di Biak dan ekspor daging ikan oleh UD Mario Abadi di Merauke.
Sementara, komoditi penghasil devisa dari impor pada Agustus 2024 berupa pembuluh pipa dan profil berongga oleh PT Freeport Indonesia di Timika, minyak petroleum oleh Exxonmobil Lubricants Indonesia dan oleh AKP Corporindo di Timika, mesin untuk menyortir oleh PT Freeport Indonesia di Timika dan sekering pengaman oleh PT Trifita Perkasa di Timika.
Editor : Syahriah Amir

























































