JAYAPURA, Redaksipotret.co – Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kota Jayapura, Evert Meraudje, secara resmi meluncurkan film dokumenter Agus Ohee, Sang Maestro Seni dari Tanah Tabi yang diproduksi oleh Imaji Papua.
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih (Uncen), Rabu, 29 April 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengangkat sosok Agus Ohee sebagai maestro seni asal Tanah Tabi, sekaligus memperkuat narasi budaya Papua melalui medium film dokumenter.
Evert Meraudje menegaskan pentingnya perhatian dan penghargaan terhadap para seniman yang selama ini berkarya di tengah keterbatasan.
“Setiap tahun Pemerintah Kota Jayapura memberikan penghargaan kepada para seniman, dan saat ini sudah memasuki tahun ke-8,” katanya.
“Saya melihat para seniman sering berjalan dalam kesunyian, menyimpan dan mengolah karya. Mereka mengabdi tanpa banyak apresiasi, bahkan ada yang meninggal tanpa kita ketahui,” ujarnya menambahkan.
Dia mengatakan, berbicara tentang seniman tidak terlepas dari identitas dan jati diri suatu bangsa.
“Budaya adalah cerminan dari siapa kita dan dari mana kita berasal. Karena itu, sudah sepatutnya kita memberikan ruang dan penghargaan yang lebih besar kepada para pelaku seni,” katanya.
Peluncuran film dokumenter ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga mampu mendorong lahirnya lebih banyak produksi film lokal yang mengangkat kekayaan budaya Papua ke tingkat nasional maupun internasional.
Perwakilan Badan Pelestarian Kebudayaan, Yudha Yapsenang, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
Dia menyatakan dukungannya terhadap upaya komunitas budaya dalam memajukan dan melestarikan warisan budaya Papua.
“Pada prinsipnya kami mendukung kegiatan para pelaku budaya. Papua memiliki potensi besar, tidak hanya dalam seni visual, tetapi juga kuliner dan obat-obatan tradisional. Penting bagi kita untuk terus membangun sinergi agar budaya ini bisa berkembang dan dikenal luas,” ungkapnya.

Sementara itu, Head of Imaji Papua, Yulika Anastasya, menjelaskan bahwa proses produksi film dokumenter tersebut melalui perjalanan panjang, melibatkan riset mendalam serta kolaborasi komunitas kreatif di Jayapura.
Film ini didukung oleh program LPDP Indonesiana dan sebenarnya telah rampung sejak tahun lalu, namun baru diluncurkan secara resmi tahun ini.
“Film ini bukan sekadar karya visual, tetapi bagian dari proses kreatif yang panjang. Kekuatan film sangat luar biasa karena mampu membawa narasi lokal Papua ke ruang yang lebih luas, bahkan hingga tingkat global,” jelas Yulika, Kamis, 30 April 2026.
Dia juga menegaskan bahwa perkembangan komunitas film di Jayapura tidak hanya terbatas pada Imaji Papua, tetapi juga melibatkan banyak komunitas lain yang terus berkembang dan menghasilkan karya berbasis kearifan lokal, seperti film tentang Kampung Abar yang diproduksi oleh anak-anak Papua. (Rilis)





























































