JAYAPURA, Redaksipotret.co – Imaji Papua bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXII menggelar Diskusi Budaya bertema “Memperkuat Ekosistem Komunitas Budaya dan Kreator untuk Pemajuan Kebudayaan Papua”, Kamis (25/9/2025), di Grand Abe Hotel, Jayapura.
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, yakni Billy Tokoro (Founder Pace Kreatif), Enrico Kondologit (Kepala Museum Uncen/Antropolog Papua), Agustinus Ohee (Seniman/Budayawan), serta Dessy Polla Usmany (Kepala BPK Wilayah XXII Kementerian Kebudayaan RI).
Diskusi dipandu oleh Iriandi Tagihuma dan dihadiri oleh mahasiswa serta pelaku ekraf dari berbagai komunitas.
Diskusi berlangsung dinamis dengan tanggapan dari mahasiswa ISBI Jayapura, mahasiswa Antropologi Uncen, hingga pelaku ekonomi kreatif. Beberapa isu yang mencuat antara lain minimnya pewarisan bahasa daerah, penyalahgunaan motif adat, serta dominasi tren busana non-Papua di kalangan anak muda.
Ketua Imaji Papua, Yulika Anastasia, menyatakan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang temu bagi para seniman, pelaku budaya, dan kreator konten untuk saling berbagi gagasan dan memperkuat kolaborasi.
“Dengan diskusi, kita bisa temukan hal-hal baru yang bisa dikerjakan bersama, berdampak positif, sekaligus mempromosikan Papua,” ujarnya, Jumat (26/9/2025).
Dalam diskusi, seniman senior Agustinus Ohee menyoroti keterbatasan ruang bagi seniman untuk berkarya, termasuk vakumnya Festival Danau Sentani tahun ini.
“Seni rupa pun mati karena tidak ada art center, tempat seniman berkarya dan memasarkan karyanya,” ucapnya.
Billy Tokoro mengajak generasi muda untuk kembali mengangkat potensi kampung halaman melalui media sosial.
“Orang kampung melihat hal sederhana sebagai biasa, tapi ketika dikemas dengan kreatif, bisa jadi daya tarik besar,” katanya.
Sementara itu, Enrico Kondologit menekankan pentingnya pewarisan budaya di tengah arus globalisasi.
“Kebudayaan eksis ketika diwariskan. Kita perlu cara agar tetap menarik bagi generasi muda,” jelasnya.
Kepala BPK Wilayah XXII, Dessy Polla Usmany, mendorong pemerintah daerah untuk menggelar Pekan Kebudayaan Daerah secara rutin sebagai bentuk dukungan nyata terhadap seniman lokal.
“Dengan panggung budaya, para seniman punya ruang berekspresi sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif,” ucap Dessy.
Editor : Syahriah Amir



























































