JAYAPURA, Redaksipotret.co – Badan Pekerja Klasis (BPK) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Waibhu Moi melaksanakan kegiatan seminar sehari bertajuk ‘Jejak Pekabaran Injil di Sentani (Bhuyakha)’ pada Kamis Kamis (18/4/2024).
Kegiatan seminar yang berlangsung di Gedung Gereja GKI Eben Haezer Yakonde, Distrik Waibhu, Kabupaten Jayapura, Papua ini dihadiri perwakilan dari Anggota BPAS Wilayah I, Departemen Penginjilan, BPK Klasis GKI Port Numbay, BPK Klasis GKI Sentani, BPK Klasis GKI Tanah Merah, BPK Klasis GKI Nimboran, BPK Klasis GKI Kemtuk Gresi, BPK Klasis GKI Waibhu Moi, PHMJ Jemaat GKI Pulende, PHMJ 19 Jemaat di Klasis GKI Waibhu Moi, para anggota Jemaat Gereja GKI Eben Haezer Yakonde dan para partisipan.
Seminar tersebut juga dihadiri sejumlah narasumber, yaitu Tim P2SPIA Tanah Tabi John Lensru, Sinode GKI di Tanah Papua Pdt. Yohan Wally dan dua orang dari akademisi.
Adapun kegiatan seminar ini bertujuan sebagai upaya langkah strategis bagi BPK GKI Sentani dan BPK GKI Waibhu Moi, untuk duduk bersama-sama menerima, mengkaji, menelaah, membandingkan seluruh data dan informasi tentang jejak Pekabaran Injil di wilayah Bhuyakha (Sentani) agar segera melakukan tindakan lebih lanjut guna menetapkan dengan pasti terkait waktu dan tempat Pekabaran Injil mula-mula di wilayah Bhuyakha (Sentani).
Selain itu, perayaan 100 tahun atau satu abad Pekabaran Injil di Sentani (Bhuyakha) yang jatuh pada 1 Mei 2026 nanti. Oleh sebab itu, BPK GKI Sentani dan BPK GKI Waibhu Moi segera melakukan komunikasi dengan cara membentuk panitia perayaan 100 tahun atau satu abad Pekabaran Injil di wilayah Bhuyakha (Sentani).
Ketua BPK GKI Waibhu Moi, Pdt. Billy Hokoyoku mengatakan, seminar sehari ini, untuk menyamakan satu kesepakatan guna menyambut 100 tahun atau satu abad Injil masuk di wilayah Bhuyakha (Sentani).
“Sebelum 2026 nanti, kami harus menyepakati satu kesepahaman, apakah 100 tahun ini jatuh pada 1 Mei 2026 atau 1 Mei 2028. Maka itu, dilakukanlah kajian ilmiah berdasarkan cerita turun-temurun maupun bukti catatan sejarah,” ucapnya usai seminar.
Menurut Pendeta Billy, hasil dari seminar ini memutuskan untuk meningkatkan ke sebuah konferensi besar, yang nantinya menghadirkan para jemaat dari Klasis GKI Waibhu Moi dan juga Klasis GKI Sentani.
“Sentani terbagi dalam dua klasis, maka untuk memutuskan persoalan ini harus dilakukan dalam sebuah konferensi yang besar. Sehingga seluruh jemaat dapat mengetahui sejarah yang sebenarnya berdasarkan bukti-bukti yang ada,” tuturnya.
Senada dengan itu, Ketua BPK GKI Klasis Sentani, Pdt. Alberth Suebu mengatakan hasil dari seminar ini, maka dua klasis (Waibhu Moi dan Sentani) di wilayah Bhuyakha (Sentani) telah menetapkan untuk persoalan ini harus diputuskan dalam sebuah konferensi besar.
“Penentuan tanggal pertama kali masuknya pekabaran Injil di Bhuyakha atau Sentani, itu harus disepakati dalam forum yang lebih besar lagi. Sehingga dapat diterapkan terus-menerus oleh generasi selanjutnya,” kata Pendeta Alberth Suebu.
Lanjutnya, Pendeta Alberth Suebu menjelaskan, dalam menyatukan persepsi terhadap pelaku sejarah masuknya (Pekabaran) Injil di Sentani itu berbeda-beda, sehingga agak sedikit menemukan kendala.
“Masyarakat Kampung Yakonde tetap teguh dengan pendiriannya, bahwa Pekabaran Injil pertama kali masuk ke Sentani melalui Kampung Yakonde dengan beberapa jejak sejarah yang ditinggalkan oleh bapak guru Daud Pekade dengan meninggalkan beberapa bekas (jejak) seperti sumur dan penetapan tugu masuknya Injil, yang diresmikan oleh Gubernur Papua (Irian Jaya saat itu) bapak Barnabas Suebu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Jejak Pekabaran Injil di Bhuyakha (Sentani), Alpius Toam menambahkan, bahwa hingga saat ini masyarakat adat Bhuyakha atau Sentani memiliki dua pandangan terkait masuknya (Pekabaran) Injil, yakni di Kampung Pulende (Kampung Ifar Besar) dan Kampung Yakonde.
“Hal ini yang harus disatukan. Karena waktu kita tersisa dua tahun ke depan atau tepatnya 2026 yang akan merayakan 100 tahun Pekabaran Injil di Bhuyakha. Sehingga seluruh orang Sentani harus bersatu dan merayakan ini dengan meriah dan harus dipusatkan pada satu tempat,” kata mantan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Jayapura ini, Sabtu (20/4/2024).
Editor : Syahriah Amir





















































