JAKARTA, Redaksipotret.co – Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan tidak mencabut izin usaha pertambangan (IUP) PT Gag Nikel yang beroperasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menjelaskan, PT Gag Nikel (PT GN) merupakan anak usaha PT Antam Tbk pada 5 Juni 2025 lalu dihentikan sementara aktivitasnya. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti pengaduan masyarakat terkait dampak pertambangan terhadap kawasan wisata dunia tersebut.
Kendati tidak dicabut perizinannya, tetapi pemerintah memberikan perhatian khusus kepada perusahaan tersebut dengan melakukan pengawasan ketat mulai dari Amdal, reklamasi hingga tidak merusak terumbu karang sembari menyampaikan bahwa reklamasi, penghijauan, dan komitmen terhadap pelestarian menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
“Dari semua ini, proses Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB yang diberikan, hanya PT Gag Nikel, yang lainnya tidak diberikan. Perusahaan ini bukan pemain baru. Eksplorasi pertama kali dilakukan sejak tahun 1972. Sejak itu, perjalanan panjang dilalui,” ungkapnya.
“Eksplorasi lanjutan pada 1999–2002, studi kelayakan pada 2008–2013, hingga konstruksi dan produksi yang dimulai pada 2015 dan 2018. Ini bukan perusahaan yang muncul tiba-tiba. Semua prosesnya melalui tahapan panjang dan pengawasan ketat,” kata Bahlil dalam konferensi pers yang disiarkan secara live di kanal youtube Kementerian ESDM, Selasa (10/6/2025).
Dari luas total konsesi 13.136 hektare, sebut Bahlil, hanya 260 hektare yang saat ini telah dibuka, dengan 130 hektare sudah direklamasi dan 54 hektare dikembalikan ke negara. Fakta ini memperlihatkan bahwa aktivitas PT Gag Nikel tidak sebebas dan sebesar yang dituduhkan.
Pada kesempatan tersebut, Bahlil juga meminta masyarakat bisa membedakan informasi yang benar dan hoaks. “Salah satu isu yang mengemuka adalah beredarnya foto dan video yang diklaim menunjukkan kerusakan lingkungan parah, termasuk pencemaran terumbu karang. Saya sudah berkunjung langsung ke lokasi dan mendokumentasikan kondisi terkini Pulau Gag. Kami memastikan bahwa ekosistem laut tetap terjaga,” ucapnya.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa Pulau Gag dihuni sekitar 700 orang atau 300 kepala keluarga, yang sebagian telah diberdayakan oleh perusahaan.
Editor : Syahriah Amir





















































