TOMOHON, Redaksipotret.co – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) terus memperkuat upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di kawasan timur Indonesia melalui pendekatan yang mengedepankan keterbukaan informasi, edukasi, dan pelibatan masyarakat.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, PLN UIP MPA memfasilitasi kegiatan studi banding ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang diikuti oleh 66 perwakilan masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan pada Kamis (25/6).
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Pemerintah Kecamatan Bacan Timur, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta warga dari Desa Tawa, Desa Songa, dan Desa Wayaua.
Melalui kunjungan tersebut, peserta memperoleh kesempatan melihat secara langsung bagaimana pembangkit listrik tenaga panas bumi beroperasi berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.
Studi banding ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan pengembangan Proyek PLTP Tawa Songa Wayaua berkapasitas 10 MW yang tengah dikembangkan PLN sebagai salah satu infrastruktur strategis nasional dalam mendukung transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE).
Selain memperkuat keandalan pasokan listrik di Halmahera Selatan, proyek ini diharapkan mampu menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Selama kunjungan, peserta meninjau berbagai fasilitas di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lahendong yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Mereka juga berdialog langsung dengan masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan PLTP selama lebih dari dua dekade untuk memperoleh gambaran nyata mengenai dampak operasional pembangkit terhadap lingkungan maupun aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Tawa, Lonly Loleo, mengakui bahwa kunjungan tersebut memberikan pemahaman baru sekaligus menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat mengenai pengembangan panas bumi.
“Selama ini masyarakat memiliki pertanyaan mengenai dampak pembangkit panas bumi terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Setelah melihat langsung PLTP Lahendong dan berdialog dengan masyarakat sekitar, kami memperoleh gambaran yang sangat jelas bahwa pembangkit ini dapat berjalan berdampingan dengan lingkungan maupun aktivitas masyarakat. Kami melihat sendiri perkebunan tetap produktif, peternakan berjalan normal, bahkan panas bumi mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” ujar Lonly.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan menyaksikan secara langsung berbagai praktik pemanfaatan energi panas bumi yang telah memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Aktivitas pertanian di sekitar area pembangkit tetap berlangsung produktif, peternakan masyarakat beroperasi tanpa gangguan, hingga pemanfaatan uap panas bumi untuk mendukung industri pengolahan gula aren yang menjadi salah satu contoh penerapan direct use geothermal.
PLTP Lahendong sendiri memiliki kapasitas terpasang sebesar 120 MW dan menjadi salah satu tulang punggung sistem kelistrikan Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan kontribusi sekitar 21 persen terhadap produksi listrik sistem Sulutgo sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan bauran energi baru terbarukan di wilayah tersebut.
General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya pembangkit energi baru terbarukan, harus berjalan seiring dengan pembangunan kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang terbuka dan berbasis fakta.
“PLN meyakini bahwa keberhasilan pengembangan energi panas bumi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh tumbuhnya kepercayaan masyarakat,” kata Raja.
Oleh karena itu, PLN menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat sendiri bagaimana PLTP beroperasi, berinteraksi langsung dengan warga yang telah merasakan manfaatnya, serta memperoleh informasi secara utuh berdasarkan pengalaman nyata di lapangan.
Menurutnya, pengalaman studi banding ke PLTP Lahendong menjadi referensi penting dalam pengembangan PLTP Tawa Songa Wayaua di Halmahera Selatan.
“PLTP Lahendong membuktikan bahwa pengelolaan panas bumi yang dilakukan dengan standar teknologi dan prinsip keberlanjutan mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.
“Kami berharap pengalaman ini memberikan keyakinan bahwa proyek PLTP Tawa Songa Wayaua nantinya akan menjadi sumber energi bersih yang tidak hanya meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, tetapi juga membuka peluang kerja, mendorong aktivitas ekonomi lokal, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Halmahera Selatan,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa PLN berkomitmen menjalankan setiap tahapan pengembangan proyek sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance, memenuhi seluruh ketentuan lingkungan yang berlaku, serta terus membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. (Rilis)























































