JAYAPURA, Redaksipotret.co – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua mengharapkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Papua lebih meningkatkan kinerja pengawasan untuk mensukseskan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024.
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey mengatakan dalam berbagai pengalaman menuju hari ‘H” atau menuju pemungutan suara sangat berpotensi terjadi pelanggaran pilkada.
“Terjadinya mobilisasi orang dalam jumlah besar, intimidasi serta tim sukses akan banyak melakukan kampanye hitam sehingga ini harus diawasi secara ketat oleh Bawaslu,” katanya.
Menurut Ramandey, dalam grup-grup media sosial di Papua banyak orang yang dengan sengaja menyebarkan kampanye hitam dan ini sangat berbahaya.
“Bawaslu Papua maupun kabupaten dan kota mempunyai tanggung jawab merespon semua kondisi ini, apalagi satu pekan di masa tenang sehingga kondisi kenyamanan selama tahapan pilkada dapat berjalan baik,” ujarnya, Rabu (20/11/2024).
Dia menjelaskan bahwa kampanye hitam terjadi di media sosial dan bersifat grup, maka Bawaslu segera menelusuri pernyataan atau narasi yang ditulis sehingga persatuan dan kesatuan bangsa di Papua terus terjaga baik.
“Apakah itu pelanggaran dari tim sukses atau individu harus dipanggil dan dimintai keterangan, dan kalau dibiarkan maka akan terjadi distorsi sehingga mengakibatkan orang saling mengancam, ini bagian dari kekerasan,” tegasnya.
Dia mengatakan, menjelang pemungutan suara sangat berpotensi orang melakukan kekerasan, intimidasi, kampanye hitam, masuk dalam kategori tersebut.
“Kalau sampai hal ini terjadi dalam tahapan menuju pilkada, maka suasana tidak aman dan damai di Papua, Bawaslu harus berperan penting dalam mencegah semua kondisi ini,” ujarnya.
Bawaslu harus menjadi benteng terakhir mengantisipasi berbagai potensi pelanggaran sehingga menciptakan pilkada damai tingkat provinsi maupun sembilan kabupaten dan kota di Papua.
Dirinya juga berharap tim sukses dan pasangan calon kepala daerah dapat bertanggung jawab terhadap pilkada damai di Papua yang menjadi atensi semua pihak.
Editor : Syahriah Amir


























































