JAYAPURA, Redaksipotret.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mendorong Pemerintah Provinsi Papua menjadikan Pelabuhan Laut Biak sebagai Pelabuhan Ekspor. Hal itu disampaikan Adriana Helena Robaha selaku Kepala BPS Provinsi Papua di Jayapura, Rabu (19/6/2024).
Menurut Adriana, potensi ekspor melalui Pelabuhan Biak dari sektor perikanan dinilai mampu meningkatkan perekonomian Papua pasca dimekarkan pada 2022 lalu kendati secara kumulatif neraca perdagangan Papua mengalami surplus.
“Kami melihat Kabupaten Biak Numfor melakukan pengiriman komoditi berupa ikan tidak langsung ke negara tujuan, tetapi melalui Provinsi Maluku terlebih dahulu. Jika langsung, maka bisa meningkatkan perekonomian Papua,” ucap Adriana.
Adriana mengatakan, Neraca perdagangan Provinsi Papua secara kumulatif pada Januari hingga Mei 2024 tercatat 29.103,44 dolar Amerika, atau mengalami peningkatan sebesar 45,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2023.
“Neraca perdagangan Papua mengalami surplus disebabkan nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor,” jelasnya.
Sementara, pada kumulatif Januari hingga Mei 2024, ekspor Papua ke enam negara utama yaitu Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Selandia Baru, Jepang dan Malaysia. Nilai ekspor secara kumulatif Januari hingga Mei 2024 tercatat 34.909,11 dolar Amerika atau naik 50,44 persen dan nilai impor tercatat 5.805,67 dolar Amerika atau naik 84,07 persen.
Ekspor ke enam negara utama tersebut, kata Adriana, dilakukan melalui Pelabuhan Jayapura, Bandara Sentani, Bandara Frans Kaisiepo, Pelabuhan Serui, dan Pelabuhan Skouw. Sementara, melalui pelabuhan di luar Papua yaitu Bandara Soekarno Hatta (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Emas (Semarang) dan Bandara Ngurah Rai (Bali)
Secara kumulatif, golongan kayu dan barang dari kayu (HS44) yang diekspor, nilainya mengalami peningkatan 83,23 persen, ekspor golongan ikan dan hewan air lainnya (HS03) meningkat 2,85 persen.
Editor : Syahriah Amir
























































