JAYAPURA, Redaksipotret.co – Pascapenutupan 11 Bandara perintis di Papua, dampak bagi industri penerbangan dinilai tidak signifikan. Lantaran penutupan tersebut berbarengan dengan masa low season.
Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Alda Trans Papua (Alda Air), Ledryk Lekenila atau Ongen kepada wartawan di Jayapura, Senin, 9 Maret 2026.
Ongen bilang, Secara umum, penurunan aktivitas penerbangan diperkirakan berada di bawah 10 persen, atau sekitar 4 persen, karena yang ditutup sebagian besar merupakan bandara perintis dengan skala operasi kecil.
Meski begitu, dampak ekonomi tetap dirasakan oleh masyarakat di daerah tersebut, terutama karena distribusi barang menjadi terhambat ketika penerbangan dihentikan.
Diketahui, salah satu operator penerbangan perintis, Alda Air, saat ini mengoperasikan empat unit pesawat untuk melayani rute pedalaman seperti Wamena, Timika, dan Pegunungan Bintang.
Maskapai ini menggunakan pesawat jenis Caravan dengan kapasitas angkut sekitar 1.300 kilogram atau sembilan penumpang per penerbangan.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub menutup sementara 11 bandara perintis di Papua akibat insiden penembakan pesawat Smart Air di Boven Digoel pada Februari 2026.
Penutupan ini merupakan langkah keamanan atau mitigasi risiko setelah peningkatan ancaman terhadap penerbangan di wilayah tersebut.
Ongen pun berharap, Bandara yang berada di daerah yang saat ini dikategorikan berisiko tinggi dapat segera kembali dibuka setelah kondisi keamanan membaik, sehingga pelayanan transportasi udara bagi masyarakat dapat kembali berjalan normal. (Haikal)

























































