JAKARTA, Redaksipotret.co – PT Pertamina Patra Niaga menutup tahun 2025 dengan pencapaian positif dan siap menapaki tahun 2026 dengan memperkuat peran strategisnya dalam menjaga ketahanan energi, pemerataan layanan, serta percepatan inovasi energi berkelanjutan.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra menyampaikan bahwa capaian sepanjang tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam memastikan energi tetap hadir secara andal bagi masyarakat.
Hingga 31 Desember 2025, sebanyak 210 outlet KDKMP LPG/Mitan telah beroperasi, sementara 1.575 outlet lainnya telah siap operasional. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi produktif bagi komunitas dan pelaku usaha di berbagai daerah hingga ke level desa.
Untuk menjaga keandalan pasokan, Pertamina Patra Niaga mengaktifkan Satgas RAFI dan Satgas NATARU.
Melalui kesiapsiagaan operasional dan layanan Pertamina Siaga, perusahaan memastikan distribusi BBM, LPG, dan Avtur tetap aman selama momen strategis seperti Idulfitri serta Natal dan Tahun Baru.
“Termasuk melalui pemberian skema harga khusus Avtur guna mendukung kelancaran transportasi dan pariwisata nasional serta memberikan layanan ekstra kepada masyarakat melalui Serambi MyPertamina dan layanan siaga,” kata Mars Ega, Jumat, 9 Januari 2026.
Dari sisi infrastruktur, Pertamina Patra Niaga memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengembangan fasilitas strategis sepanjang 2025.
Antara lain Terminal LPG Bima di Nusa Tenggara Barat, revitalisasi Terminal LPG Arun di Aceh, serta Fuel Terminal Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Kehadiran fasilitas ini memperkuat keandalan pasokan energi, khususnya di wilayah Indonesia timur dan kawasan strategis nasional.
Dalam upaya pemulihan pasokan BBM dan LPG di pascabencana di Sumatera, Pertamina Patra Niaga mengerahkan seluruh jalur distribusi secara terpadu melalui jalur darat, laut, dan udara.
Penyaluran dilakukan dengan memaksimalkan mobil tangki melalui jalur darat meskipun dihadapkan pada keterbatasan akses, penguatan suplai melalui kapal laut dari terminal terdekat, serta dukungan distribusi udara untuk memastikan pasokan cepat ke wilayah yang sulit dijangkau menggunakan pesawat perintis, pesawat hercules, helicopter dengan sling load membawa LPG hingga Air Tractor.
Berbagai metode dilakukan secara all out dengan koordinasi intensif lintas instansi pusat dan daerah, guna memastikan energi tetap tersedia bagi masyarakat, layanan publik, dan aktivitas pemulihan ekonomi di wilayah terdampak.
Sejalan dengan agenda transisi energi, Pertamina Patra Niaga terus mendorong pengembangan energi ramah lingkungan melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Pada 2025, Pertamina SAF telah tersertifikasi internasional berkelanjutan ISCC CORSIA untuk fasilitas Aviation Fuel Terminal (AFT) di 3 bandara utama, yaitu Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, dan Halim Perdanakusuma. Inisiatif ini diperkuat melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku berkelanjutan.
Hal ini pun terus dikembangkan dalam ekosistem Pertamina SAF, melalui program Movement Ramah Lingkungan yang mengajak partisipasi masyarakat dalam pengumpulan minyak jelantah melalui program Pengumpulan Minyak Jelantah di 36 titik tersebar di SPBU dan lembaga penyalur Pertamina. Per 31 Desember 2025, volume terkumpul mencapai 154.408 liter dari 5.225 masyarakat yang berpartisipasi.
“Memasuki 2026, Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran sebagai subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui optimalisasi infrastruktur, peningkatan kualitas layanan ritel, serta pengembangan portofolio energi berkelanjutan, sejalan dengan arah kebijakan energi nasional dan Asta Cita Presiden RI,” pungkas Mars Ega. (Rilis)























































